Your Ad Here
Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Wednesday, April 21, 2010

TNI-AL Tender Ulang Pengadaan Kapal Selam

TNI Angkatan Laut menender ulang pengadaan dua kapal baru dan prosesnya sekarang sudah dimulai dengan sejumlah perusahaan telah mengajukan penawaran.

Ketika dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Rabu, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan, karena rencana pengadaan sebelumnya belum disetujui maka pihaknya melakukan tender ulang terhadap pengadaan dua kapal selam tersebut.

"Ya sudah dimulai, dan pesertanya bisa dari pemain-pemain lama atau baru. Kami tidak tahu, yang jelas kami lakukan tender ulang karena kapal selam ini memang sangat kami butuhkan," katanya, usai menghadiri Forum Strategi TNI Angkatan Laut 2010.

Pengadaan dua unit kapal selam itu dibiayai fasilitas Kredit Ekspor (KE) senilai 700 juta dollar Amerika Serikat, yang diperoleh dari fasilitas pinjaman luar negeri di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2004-2009. "Kami sudah tentukan spesifikasi teknisnya, serta kemampuan dan efek penggentar yang lebih dari yang dimiliki negara tetangga, kata Kasal.

Pada tender pertama,d ari empat negara produsen kapal selam yang mengajukan tawaran produk mereka, seperti Jerman, Perancis, Korea Selatan, dan Rusia, TNI Angkatan Laut telah menetapkan dua negara produsen sesuai kebutuhan yaitu Korea Selatan dan Rusia.

Friday, March 12, 2010

Kapal Selam, Tetap Jadi Prioritas TNI AL

Luas wilayah yuridiksi Indonesia yang mencapai 5,9 juta km persegi sangat membutuhkan sarana pengamanan yang handal. Luas perairan nasional yang terdiri dari 2,7 juta km persegi luas zona ekonomi eksklusif (ZEE) dan 3,2 juta km persegi luas perairan kepulauan dan perairan sangat membutuhkan kekuatan kapal selam dalam hal pengamanannya.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Agus Suhartono mengungkapkan TNI AL kini sedang memproses pengadaan kapal selam. Rencana penambahan kapal selam ini menurut KSAL telah ditetapkan dalam cetak biru (blue print) kekuatan TNI AL.

Sebagaimana diungkapkan Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal), Kolonel Laut (P), Herry Setianegara di Mabes AL, Cilangkap, Jakarta Timur pada Kamis (11/3) bahwa TNI AL tengah memprioritaskan pembelian kapal selam hingga tahun 2011 nanti.

"Penambahan kapal selam tetap mempertimbangkan kondisi keuangan negara. Mengenai jumlah ideal kapal selam bisa dilihat dari berbagai perspektif, misalnya geografis," kata Agus Suhartono.

Dalam mengadakan kapal selam, kata KSAL, dipertimbangkan pula kemampuan selam dari kapal tersebut. "Kemampuan kapal selam itu bisa menyelam lebih lama, minimal dua minggu. Itu yang paling utama bagi kapal selam. Kalau kapal selam tiap hari harus muncul yah ketahuan. Harus bisa menyelam cukup lama," katanya.

Direktur Jenderal Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI, Laksamana Muda TNI Gunadi mengatakan anggaran yang dibutuhkan untuk pengadaan dan pemeliharaan Alutsista hingga 15 tahun mendatang sekitar Rp.400 triliun. Selain itu, ke depan Kemenhan dan TNI akan memprioritaskan penggunaan alutsista dalam negeri. Namun, untuk saat ini beberapa alutsista masih berasal dari luar negeri.

Wednesday, February 10, 2010

Bikin Kapal Selam, PAL Incar Jerman dan Korea

PT PAL Indonesia tengah mengincar teknologi dua negara, Jerman dan Korea Selatan, untuk digandeng membuat kapal selam di Indonesia.


Direktur Jenderal Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Gunadi menjelaskan, produsen kapal PT PAL masih terkendala teknologi untuk memproduksi sendiri kapal selam di galangannya.

"Sebetulnya PT PAL bisa buat sendiri tapi terkendala teknologi dan peralatan sehingga tidak mau gambling di tingkat safety pengguna," kata Gunadi kepada VIVAnews di Jakarta, 9 Februari 2010.

Selain berencana membuat kapal selam dan telah berhasil membuat kapal perang FPG-57, PT PAL juga tengah mempersiapkan untuk membuat kapal perang jenis Perusak Kawal Rudal (PKR). PT PAL yakin bisa membuat kapal perang bersenjatakan peluru kendali tersebut dalam waktu 4 tahun. Harga satu kapal PKR mencapai 170 juta euro.

Gunadi menjelaskan, industri strategis di Indonesia telah mampu memasok alutsista dengan teknologi menengah. Dia mencontohkan, PT Dirgantara Indonesia yang sudah bisa memproduksi pesawat MPA dan telah diekspor ke Eropa. "Kemampuan kita sudah cukup memadai untuk teknologi menengah, tapi untuk teknologi tingkat tinggi memang harus pelan-pelan," ujarnya.

Untuk peralatan dengan teknologi tinggi, kata dia, jika tidak diproduksi dalam jumlah banyak (massal), malah "jatuhnya" akan mahal. Seperti pembuatan pesawat jet tempur, akhirnya bermitra dengan Korea Selatan untuk menekan biaya produksi. "Itupun baru bisa dipakai pada 2020," ujarnya.

Wednesday, February 3, 2010

Penyusunan Kualifikasi Kapal Selam TNI AL Selesai

Rencana pembelian kapal selam oleh TNI AL sudah menyelesaikan tahap penyusunan permintaan spesifikasi dan teknis. Hasil penyusunan akan segera dipaparkan dalam pertemuan dengan Kementerian Pertahanan, Rabu siang (3/2), Jakarta.


"Spesifik requirement dan technical requirement sudah selesai kami susun," kata KSAL Laksamana Madya Agus Suhartono kepada wartawan di Jakarta, Rabu (3/2). Kualifikasi kapal selam tersebut terdiri dari kemampuan ketahanan menyelam, kompatibel dengan alutsista yang dimiliki, dan sesuai dengan anggaran pemerintah yang ada.

Detail kualifikasinya, sambung dia, tidak berbeda jauh dengan susunan terdahulu namun terdapat penekanan lebih terhadap ketahanan menyelam. Ia beberapa waktu lalu mengatakan bahwa ketahanan menyelam minimal setidaknya dua minggu sekali operasi. Jika kurang, operasi penyelaman tentu tak bisa berjalan optimal.

"Kebutuhan kapal selam baru dua unit. Kenapa lambat? Itu karena perlu peninjauan kembali," sahutnya.

Ia menyatakan bahwa pembukaan secara luas atas kebutuhan itu akan dilakukan oleh Kemenhan. Sebelumnya, pihaknya akan membahas rinciannya kebutuhan kapal selam siang ini. "Nanti siang, kami ke Dephan akan membahas minimum essential force, berapa kekuatan yang kita butuhkan. Lebih khusus lagi berapa kapal selam yang kita butuhkan," tandasnya (source Media Indonesia)

Sunday, January 31, 2010

Pengadaan Dua Kapal Selam Dephan Gelontorkan Rp 6,3 Triliun

Indonesia merupakan negara maritim. Untuk itu sudah selayaknyalah negeri ini memperkuat armada perang. TNI Angkatan Laut (AL) guna mencegah dan mengantisipasi aneka gangguan keamanan nasional yang mungkin saja timbul.

Terkait hal itu, Dapertemen Pertahanan (Dephan) siap mengelontorkan dana sebesar 700 juta dollar AS atau setara Rp 6,3 Triliun untuk pengadaan dua unit kapal selam guna memperkuat armada perang TNI AL. Aplikasi kontrak pengadaan dua unit kapal selam itu sudah bisa dilaksanakan sehingga pada 2011 pengadaan dua unit kapal selam tersebut sudah bisa direalisasikan dan pada 2014 mendatang sudah selesai pengerjaannya.

TNI kaji U214 Jerman

Hal itu kemukakan oleh Dirjen Sarana Pertahanan Marsekal Madya TNI Eris Herryanto kepada wartawan di Jakarta, jumat (15/1). Menurut jenderal Berbintang tiga itu, proses pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) untuk memperkuat armada perang TNI AL sudah hampir final dan bisa segera direalisasikan.

Mengenai negara mana yang akan dipilih, Dephan akan menyerahkan TNI AL untuk mengkajinya. Sejauh ini pilihannya adalah Rusia , Jerman atau Korea Selatan, karena memang negara-negara ini yang memiliki kehandalan dalam membuat kapal selam. “Dephan sudah menganggarkan 700 juta dollar AS untuk pengadaan dua unit kapal selam. Karena itu pengadaanya bisa segera direlisasikan,” terang Eris.

Ditempat yang sama, Kasal Laksamana Madya TNI Agus Suhartono yang ditemui usai menjadi Inspektur Upacara Hari Dharma Samudera di atas kapal KRI Surabaya mengungkapkan, pihaknya menyambut baik pengadaan dua unit kapal selam yang telah dianggarkan oleh Dephan. Baginya, jumlah itu sudah cukup walau tidak bisa dibilang ideal, karena ukuran ideal itu tergantung perspektif masing-masing.

Mengenai jenis kapal selam yang dibutuhkan TNI AL, menurut orang nomor satu di AL itu adalah yang mampu tahan lama menyelam didalam air. Sehingga sesuai fungsi dari kapal selam yang merupakan bagian dari operasi rahasia.

Sunday, January 17, 2010

Defense industry to receive shot of life

Purnomo Yusgiantoro acted fast after being installed as defense minister by conducting a series of workshops aimed at revitalizing Indonesia's strategic industries, as if to allay the public's doubt over his capabilities to handle the defense portfolio.



The workshops were a success, for the first time all stakeholders were assembled together at one place and discussed all their concerns.

First, the Indonesian Military (TNI) and the National Police, the main users of domestically-made weapons systems, outlined on Nov. 18, 2009, their projected needs.

Based on these requirements, the defense industries then presented on Nov. 24, 2009, their options based on their current capabilities.

After the end-users and producers had presented what they need and what they can do, a discussion on the financial side was held with Finance Minister Sri Mulyani and national bankers presenting their ideas.


Saturday, January 16, 2010

Kaji Ulang Kapal Selam

Pengadaan kapal selam oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dikaji dari awal lagi. Alasannya, selain adanya prioritas anggaran pada kesejahteraan prajurit, juga ada beberapa perubahan dalam spesifikasi teknis yang diajukan TNI AL.

Demikian disampaikan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Madya Agus Suhartono dan Direktur Jenderal Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Eris Herryanto di Jakarta, Jumat (15/1), seusai peluncuran buku Mission Accomplished-Misi Pendaratan Pasukan Khusus oleh Kapal Selam RI Tjandrasa karya Atmadji Sumarkidjo.


Cakra401 submarine

”Kapal selam tetap diadakan, tahun 2014 diharapkan sudah selesai,” kata Agus Suhartono.

Ia menyampaikan, kapal selam adalah senjata strategis yang memberikan dampak politis dan penangkalan. Sebagaimana rencana sebelumnya, pada 2014 diharapkan akan ada dua kapal selam baru. Dengan demikian, pada 2010 ini kontrak direncanakan untuk ditandatangani dan pembangunan yang memakan waktu tiga tahun bisa dimulai tahun 2011.

”Kita proses lagi pengadaannya dari awal mulai dari kebutuhan operasi dan spesifikasinya kita tata ulang,” kata Agus.


Friday, January 15, 2010

Pengadaan Kapal Selam TNI Tertunda hingga 2014

JAKARTA - Rencana pengadaan dua kapal selam TNI AL dipastikan tidak akan terwujud dalam waktu dekat, lantaran faktor keterbatasan anggaran. Diperkirakan permintaan TNI AL itu baru akan dipenuhi pada tahun 2014.

“Presiden menyatakan untuk sementara masih mempertimbangkan kemampuan negara. Namun diharapkan dua kapal selam akan hadir di Indonesia pada 2014,” ujar Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Madya TNI Agus Suhartono dalam acara silaturrahmi dan lomba menembak antara TNI AL dengan insan pers di Lapangan Tembak Mabesal, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (29/12/2009).
Kendati tertunda, namun proses tender pengadaan kapal selam sudah mulai digelar di Departemen Pertahanan. Dalam kaitan ini, jajaran TNI AL hanya memberikan masukan jenis kapal selam apa yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Adapun mengenai keputusan kapal akan diimpor dari mana sepenuhnya menjadi wewenang Departemen Pertahanan. “TNI AL sudah mengajukan ke Dephan, sekarang tinggal kita tunggu saja,” ungkapnya.

Dalam kesempatan ini, KSAL mengungkapkan ketersedian alutsista TNI AL masih jauh dari kebutuhan riil di lapangan. Situasi ini karena keterbatasan anggaran dari APBN. Namun, keadaan ini diupayakan tidak menganggu jajaran TNI AL dalam menjalankan tugas pokonya.

Saturday, January 9, 2010

PTDI to hand over aircraft to S Korea by end of 2010

State aircraft manufacturer PT Dirgantara Indonesia (PTDI) is scheduled to hand over one of four CN-235/ MPA (Maritime Patrol Aircraft) ordered by South Korea, by the end of 2010.



"Four CN-235/ MPA aircraft are currently under construction by PTDI to meet the South Korean order. One of the planes would be handed over to South Korea by the end of 2010," PT Dirgantara Indonesia`s chief spokesman Rokhendi said in Bandung Friday.

He said the four CN-235/MPA planes are ordered by South Korea under a contract signed in 2008 at a total cost of 94.5 million US dollars. The production of the four aircraft would be completed in 2012.


Monday, December 21, 2009

TNI-AL "Pensiunkan" 27 Armada Perangnya


Kasal, Laksamana Madya TNI Agus Suhartono. (ANTARA/Widodo S. Jusuf)

Jakarta - Markas Besar TNI Angkatan Laut segera "mempensiunkan" 27 armada perangnya karena sudah tidak laik untuk dioperasionalkan. Usai menghadiri rapat paripurna ke-30 TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD), Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Madya TNI Agus Suhartono ketika dikonfirmasi ANTARA News di Jakarta, Senin, mengatakan, ke-27 armada perang yang akan segera dipensiunkan adalah enam kapal perang dan 21 unit pesawat Nomad.

Wednesday, December 16, 2009

Kapal Selam TNI-AL Diperbaiki di Korea Selatan

Sebuah kapal selam dari jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) TNI Angkatan Laut (AL) diboyong ke Korea Selatan untuk diperbaiki.




Kepala Dinas Penerangan Koarmatim Letkol Laut (Kh) Toni Saiful di Surabaya, Selasa mengatakan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Nanggala-402 itu diangkut ke Korea Selatan dengan menggunakan kapal Combi Dock III.

COMBI DOCK III

"Kapal itu berangkat ke Korea Selatan pekan lalu untuk perbaikan lengkap (`overhaul`)," katanya.

Menurut dia, KRI Nanggala-402 adalah kapal selam kedua dalam jenis kelas cakra setelah kapal selam generasi sebelumnya, KRI Cakra-401. KRI Nanggala termasuk dalam jajaran armada pemukul milik TNI-AL.

Sistem penggerak kapal itu adalah motor listrik Siemens jenis "low-speed" yang disalurkan langsung melalui sebuah "shaft" ke baling-baling kapal.

Total daya yang dikirim adalah 5.000 shp (shaft horse power), tenaga motor listrik dihasilkan oleh baterai-baterai besar yang beratnya sekitar 25 persen dari berat kapal.

Tenaga baterai diisi oleh generator yang dijalankan empat unit mesin diesel MTU jenis "supercharged".

Kapal selam KRI Nanggala-402 itu memiliki 14 buah senjata torpedo buatan AEG dan dapat diincar melalui periskop buatan Zeiss yang diletakan disamping "snorkel" buatan Maschinenbau Gabler.

KRI Nanggala memiliki berat selam 1,395 ton dengan dimensi 59,5 m x 6,3 m x 5,5 m yang digerakkan oleh mesin diesel elektrik, dan empat unit diesel satu shaft yang mampu menghasilkan 4,600 shp. Kapal tersebut diawaki 34 pelaut itu sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 21,5 knot.

Sebagai bagian dari armada pemukul, KRI Nanggala merupakan kapal selam tipe 209/1300 yang banyak digunakan Angkatan Laut di dunia.

Sebelumnya, Koarmatim juga telah mengirimkan KRI Cakra-401 ke Korea Selatan untuk diperbaiki. Perangkat teknologinya yang sebelumnya buatan 1970-an kini telah diganti dengan perangkatan teknologi buatan 1990-an.

KRI Nanggala buatan Howaldtswerke, Kiel, Jerman Barat 1981 itu pernah terlibat dalam latihan gabungan TNI AL-US Navy (CARAT-8/02) yang diadakan pada 27 Mei-3 Juni 2002.

Selain itu kapal selam tersebut juga pernah terlibat dalam Latihan Operasi Laut Gabungan (Latopslagab) XV/04 di Samudera Hindia, tanggal 8 April hingga 2 Mei 2004. KRI Nanggala juga berhasil menenggelamkan eks-KRI Rakata, sebuah kapal tunda samudra buatan 1942 dengan torpedo SUT.(*) (Original News)
Bookmark and Share

Saturday, December 12, 2009

Navy to get three CN-235 surveillance aircraft

The Defense Ministry signed a contract Friday with state aircraft producer PT Dirgantara Indonesia (DI) to procure three CN-235-220 Maritime Patrol Aircraft (MPA) for the Navy to be delivered in two years.

The US$80 million contract was signed by PT DI president director Budi Santoso and the director general of defense facilities at the ministry Vice Marshal Eris Herryanto at the closing ceremony of a national workshop to revitalize the Indonesian defense industry.



Attending the ceremony were Defense Minister Purnomo Yusgiantoro, State Minister for State Enterprises Mustafa Abubakar, Indonesian Military (TNI) chief Gen. Djoko Santoso, and National Police deputy chief Comr. Gen. Makbul Padmanegara.

The officials signed a joint agreement on using domestic defense industry products to fulfill TNI and National Police needs.

“We are committed to procure domestic weapon systems,” Purnomo said.

Meanwhile, Budi said in a  media statement that the patrol aircraft had sensors to carry out surveillance and targeting missions. They are also ready for future anti-submarine warfare capabilities.

“The three aircraft are the first batch of six needed to fulfill a Minimum Essential Force concept while ideally the Navy should have 16 patrol aircraft,” he said.

Navy chief spokesman Commodore Iskandar Sitompul told The Jakarta Post the Navy currently was operating three smaller NC-212 MPA, procured from PT DI in 2007.

The Air Force also operates a CN-235-220 MPA similar to the Navy’s.

When asked whether there would be overlapping missions between the Navy and the Air Force, Navy chief of staff Vice Adm. Agus  Suhartono said it was not the case.

“Our aircraft missions are more tactical such as for firing and acquiring target data [for our warships],” he told the Post at the sideline of the ceremony.

“Meanwhile, the Air Force missions are more strategic.”

Budi said while both Navy and Air Force versions used French-made Thales systems, they have different specifications.

“The Navy version is looking downward with its sensors on the belly of the aircraft while the Air Force version is looking upward with its sensors in the nose of the aircraft,” he told the Post.

“The Navy version is capable of, tracing small contacts on the sea surface such as the retracted periscope of a submarine, while the Air Force is capable of tracing aircraft.”

Budi said the Air Force’ CN-235-220 MPA managed to track an Australian P-3C Orion surveillance aircraft well inside Indonesian territorial waters during a test flight along Java’s  southern coast.

He added another reason to have the French Thales system for the Navy’s patrol aircraft was so they could communicate with four Dutch-made SIGMA corvettes which are also using the Thales system.

PT DI is currently working on four CN-235-110 MPAs for the South Korean Coast Guard in a contract worth $96 million and is involved in upgrading Turkish CN-235s  for maritime patrol and anti-submarine warfare roles in a contract worth $30 million.

Meanwhile, state shipbuilder PT PAL Indonesia signed a memorandum of understanding (MoU) with state oil and gas producer PT Pertamina to design, construct, maintain and repair vessels.

The MoU was signed by PAL president director Harsusanto and Pertamina president director Karen Agustiawan.

“It is Pertamina’s commitment to develop synergy between state-owned enterprises with a mutual benefits principle,” Karen said.(Original News)
Bookmark and Share

Monday, December 7, 2009

Still a long wait until Navy can operate more submarines


KRI Cakra-401 Indonesian Submarine

Because of limited government budget allocations, the Indonesian Navy will have to wait for up to four years before procuring two additional submarines to strengthen the current fleet of two submarines.
"This isn't our call because we have to coordinate with the Indonesian Military *TNI*, the Defense Ministry and the government," Navy Chief of Staff Vice Adm. Agus Suhartono was quoted as saying by Antara news agency in Surabaya on Saturday.
"We have proposed the plan for quite some time now and the budget is still being studied. Hopefully, the two submarines can be procured by 2014," he said.
Agus was speaking at the sidelines of a ceremony to commemorate Fleet Day at the Navy's Eastern Fleet Command headquarters in Surabaya.
Agus said during the selection and assessment process, the Navy had singled out Italy, the Netherlands and Russia as potential suppliers of the two submarines.
"We will choose a country that can provide us with a product at a competitive price and offers better transfer of technology options," he said.
"The tender process will be open using a credit export financing scheme."
Each submarine is estimated to cost around Rp 3.5 trillion (US$371.85 million).
Agus added the two additional submarines will increase the Navy fleet's capabilities in securing Indonesian maritime territories.
Currently Indonesia operates the German-made U-209 class KRI Cakra and the KRI Nanggala submarines that were commissioned in 1981.
Indonesia first started using submarines in 1959 when two Russian-made Whiskey class submarines moored at the Tanjung Perak harbor in Surabaya.
Indonesia operated 12 Whiskey class submarines.
Before being replaced this year, former defense minister Juwono Sudarsono had narrowed the list of possible suppliers to South Korea and Russia.
Commenting on this, Navy chief spokesman Commodore Iskandar Sitompul said there might have been new assessments since "the Navy Chief of Staff mentioned *different potential suppliers*".
Iskandar said with such a challenging geography, Indonesia needed submarines to safeguard its maritime territories.
"Our closest neighbors also operate submarines," he told The Jakarta Post on Sunday, referring to Australia, Malaysia and Singapore.
"We need submarines to maintain a regional balance of power to secure peace."
Iskandar insisted the government was still prioritizing sectors such as education and health.
Two other countries in Southeast Asia also operate submarines.
Singapore currently has four Challenger class submarines, formerly the Swedish-made Sjoormen class. One submarine was procured in 1995 while the rest were acquired in 1997. These submarines were originally built for the Swedish Navy in the late 1960s.
Singapore added two Archer class (formerly known as Vastergotland class) submarines from Sweden in 2005. The submarines were built in the 1980s and were placed in reserve by the Swedish Navy.
The first submarine, RSS Archer, was launched on June 16 for sea trials and expected to return to Singapore in 2010.
Recently, Malaysia has just received its first of two French-made Scorpene class submarines.
Ordered in 2006, the KD Tunku Abdul Rahman was launched on Oct. 24, 2007 and arrived on Sept. 3 this year.
Meanwhile, the Royal Australian Navy has six Collins class submarines and plans to acquire 12 new submarines by 2025. (Orignal News)

Sunday, December 6, 2009

Kapal Selam Terealisasi 2014



SURABAYA(SI) – Pengadaan dua unit kapal selam untuk TNI Angkatan Laut (AL) diperkirakan baru terealisasi pada 2014.Departemen Pertahanan (Dephan) masih menimbang sejumlah negara yang dianggap layak sebagai penyuplai kapal selam.

Sebanyak tiga negara sudah masuk dalam kriteria yang ditetapkan, yakni Italia,Belanda dan Rusia.Selanjutnya Dephan akan menentukan satu di antara tiga negara tersebut yang dinilai mampu menyediakan kapal selam sesuai kebutuhan TNI AL. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Madya TNI Agus Suhartono mengatakan,pembelian kapal selam baru tidak semudah yang dibayangkan.Kendati untuk kepentingan AL, tapi juga harus melalui persetujuan Angkatan Darat (AD) maupun Angkatan Udara (AU).

”Perkembangan terakhir,kapal selam baru akan masuk ke Indonesia pada 2014.Kita masih dalam tahap menyeleksi negara mana yang akan menyediakannya,” kata Agus Suhartono seusai upacara peringatan ke-64 Armada RI di Dermaga Koarmatim,Ujung,Surabaya. KSAL menjelaskan, Indonesia yang memiliki wilayah perairan yang sangat luas,idealnya mempunyai kekuatan minimal empat kapal selam. Saat ini Indonesia baru mempunyai dua unit kapal selam, dan itu pun usianya sudah terbilang tua. Khusus kapal selam baru nanti, TNI AL tak hanya berpikir pada harga murah.

”Pertimbangan terpenting adalah teknologinya mampu menjawab kebutuhan yang ada. Kalau hanya murah saja,nanti khawatirnya malah tidak sesuai harapan,” tambak Agus Suhartono. Selain pengadaan kapal selam, pada 2010 nanti TNI AL juga akan menambah kekuatan dengan kapal perusak berpeluru kendali.Kapal tersebut akan dibuat PT PAL dengan bekerjasama dengan galangan luar negeri. Tapi KSAL tak merinci negara mana yang akan bekerjasama dengan PT PAL. Sementara itu, peringatan ke- 64 Armada RI kemarin jauh berbeda dibanding seremoni sebelumnya.

Balutan seni sangat terasa dalam upacara tersebut. Misalnya hiburan orkestra symphony Korps Musik TNI AL, sekaligus penyanyi dari Korps Wanita TNI AL. Mereka tak sekadar membawa lagu mars, tetapi juga lagu komersial seperti Kuch Kuch Hotta Hai. Selain itu ada Military Dance yang dipersembahkan 300 personel gabungan dari perwira, bintara dan tmtama. Masih ada lagi paduan suara 600 prajurit Koarmatim. ”Kali ini memang sangat berbeda. Kita menekankan unsur seni agar peringatan ke-64 Armada RI tidak terlihat kaku.

Tadi malam juga ada hiburan musik yang menghadirkan vokalis Boomerang Roy Jeconiah di Dermaga Ujung,” jelas Kadispen Koarmatim Letkol Laut Toni Syaiful.(Original News)


  Moray 1400 class (Dutch)

S 1300 (Sauro-class) Italian

Reference
dutchsubmarines
Possible sale of submarines to Indonesia
Italy Submarine Export Behavior
Russia, Italy present new diesel submarine at Euronaval 2006